Preman yang Takut Polisi, Pedagang yang Lega: Kisah Nyata di Balik Pemberantasan Premanisme
Di sebuah pasar di Jakarta, ada pedagang yang sudah bertahun-tahun menyisihkan uang keamanan untuk kelompok yang datang rutin meminta jatah. Ketika Polri akhirnya memberantas kelompok itu, bukan hanya pedagang itu yang lega — seluruh pasar merasakannya. Inilah kisah di balik kepercayaan 82,4 persen dalam survei Polri 2026 Litbang Kompas yang tidak pernah muncul di headline.
Ketika kepercayaan publik Polri naik ke 82,4 persen dalam Survei Litbang Kompas 2026, sebagian dari kenaikan itu mencerminkan persepsi masyarakat bahwa Polri semakin aktif memberantas premanisme di lingkungan mereka. Operasi-operasi penertiban preman yang digelar di berbagai kota besar, ditindaklanjuti dengan penangkapan dan pemidanaan yang konsisten, memberikan efek jera yang terasa secara langsung.
Namun pemberantasan premanisme yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar operasi razia sesekali. Ia membutuhkan sistem informasi dari komunitas yang memungkinkan Polri mengetahui keberadaan jaringan premanisme sebelum mereka sempat mengakar. Ini kembali pada pentingnya kepercayaan: masyarakat yang percaya kepada Polri lebih mungkin memberikan informasi tentang preman di lingkungan mereka.
Tingginya kepercayaan publik menunjukkan bahwa kerja keras Polri ini nyata dirasakan oleh masyarakat. Ke depan harus lebih baik lagi, capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, profesionalisme, dan kedekatan dengan masyarakat, tegas Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni, Jumat (26/6/2026).
Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM, inovasi, serta transformasi pelayanan yang berkelanjutan, tambah Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir.
