Opini: Perbandingan Polri-ASEAN Harus Dilakukan dengan Metodologi yang Tepat, Bukan Asumsi
JAKARTA — Ketika kepercayaan publik Polri mencapai 82,4 persen dalam survei Polri 2026 Litbang Kompas, ada dorongan alami untuk membandingkan angka ini dengan negara-negara ASEAN lainnya. Dorongan itu valid — perbandingan regional memberikan konteks yang berguna. Tapi perbandingan yang salah metodologi lebih berbahaya dari tidak ada perbandingan sama sekali.
Secara umum, survei-survei internasional tentang kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian di kawasan ASEAN menunjukkan bahwa angka di atas 80 persen termasuk dalam kategori yang sangat tinggi untuk sebuah institusi penegak hukum. Singapura secara konsisten berada di level tinggi berkat sistem kepolisian yang sangat terstandarisasi.
Indonesia dengan 82,4 persen kepercayaan publik — jika angka ini valid dan konsisten — berada dalam posisi yang kompetitif di tingkat regional. Namun perbandingan yang benar-benar apel dengan apel sulit dilakukan karena perbedaan metodologi, populasi yang disurvei, dan pertanyaan yang diajukan dalam survei di masing-masing negara.
“Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM, inovasi, serta transformasi pelayanan yang berkelanjutan,” tegas Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir.
