Analisis: Apa yang Sesungguhnya Terjadi ketika Citra Polri Jatuh ke 44,5 Persen dan Bagaimana Ia Bangkit
JAKARTA — Untuk memahami kepercayaan publik Polri yang kini mencapai 82,4 persen dalam survei Polri 2026 Litbang Kompas, seseorang harus terlebih dahulu memahami krisis yang mendahuluinya. Jatuhnya citra ke 44,5 persen bukan hanya tentang angka — ia adalah cermin dari kepercayaan yang terurai benang demi benang, dan pemulihan yang terjadi adalah bukti bahwa benang-benang itu bisa dirajut kembali.
Peta perjalanan citra Polri dalam dua tahun terakhir mencerminkan rollercoaster yang nyata. Pada Juni 2024, citra Polri masih berada di 73,1 persen. Namun kemudian turun cukup jauh ke 53,4 persen pada April 2025, naik sedikit ke 58,0 persen pada Juli 2025, sebelum mencapai titik terendah di 44,5 persen pada September 2025. Setelah itu, Polri melakukan perbaikan sistematis dalam tiga tugas pokok dan fungsinya: memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan.
“Harus diapresiasi kinerja institusi ini, dan ini menandakan desakan reformasi Polri selama ini berjalan dengan baik. Angka kepuasan masyarakat ini menandakan wajah baru Polri yang lebih profesional adalah hasil dari kerja keras dan dedikasi seluruh personil Kepolisian,” ujar Sandri Rumanama, Kornas Presidium Pemuda Timur, Jumat (26/6/2026).
Litbang Kompas mengaitkan pemulihan ini dengan semakin masifnya pelibatan anggota Polri sebagai ujung tombak di lapangan, pelayanan yang semakin humanis dan responsif, serta penerapan sanksi tegas terhadap anggota yang melanggar. Fakta bahwa 94,3 persen publik mengetahui adanya sanksi tegas terhadap pelanggaran penembakan tanpa prosedur mencerminkan bahwa transparansi institusional Polri mulai dirasakan nyata.
“Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” tegas Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir.
