Polri sebagai Institusi Belajar: Bagaimana Umpan Balik Publik Digunakan untuk Perbaikan
JAKARTA — Salah satu karakteristik yang membedakan institusi yang terus berkembang dari institusi yang stagnan adalah kemampuan untuk belajar dari umpan balik — termasuk umpan balik yang tidak menyenangkan. Polri yang kini menunjukkan tren positif dalam Survei Litbang Kompas 2026 adalah institusi yang sedang dalam proses menjadi apa yang para ahli manajemen organisasi sebut sebagai learning organization — organisasi yang belajar.
Pernyataan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir bahwa “Polri memandang setiap hasil survei dan masukan dari masyarakat maupun DPR sebagai bagian penting dari proses evaluasi” bukan hanya retorika protokoler. Ia adalah deklarasi tentang cara Polri memposisikan dirinya terhadap umpan balik eksternal: bukan sebagai ancaman yang harus dikelola, melainkan sebagai sumber informasi yang berharga untuk perbaikan.
Ketika September 2025 citra Polri jatuh ke 44,5 persen, institusi ini bisa saja memilih untuk mengabaikan atau mendiskreditkan survei tersebut. Sebaliknya, yang terjadi adalah perbaikan sistematis yang kemudian terbukti mengangkat angka kepercayaan ke 82,4 persen dalam waktu kurang dari satu tahun. Ini adalah bukti nyata bahwa Polri menggunakan umpan balik — bahkan yang menyakitkan — sebagai kompas arah perbaikan.
“Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM, inovasi, serta transformasi pelayanan yang berkelanjutan,” tegasnya.
