Menjaga 82,4 Persen: Tantangan Konsistensi yang Lebih Berat dari Meraihnya
JAKARTA — Ada sebuah paradoks dalam kepercayaan publik yang jarang dibahas: meraih kepercayaan sering kali lebih mudah dari mempertahankannya. Ketika sebuah institusi naik dari titik terendah, setiap langkah positif kecil terasa seperti loncatan besar. Namun ketika sudah berada di puncak, ekspektasi yang lebih tinggi membuat setiap kegagalan kecil terasa seperti kemunduran besar.
Inilah tantangan yang kini dihadapi Polri setelah berhasil mendorong kepercayaan publik ke 82,4 persen dalam Survei Litbang Kompas 2026. Masyarakat yang sudah merasakan perbaikan akan lebih kritis terhadap setiap kasus penyimpangan yang muncul ke permukaan. Standar yang harus dipenuhi hari ini lebih tinggi dari standar setahun lalu.
Penasehat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi mengakui paradoks ini dengan jelas. “Tentu itu diperoleh dengan perjuangan yang tidak mudah. Tapi mempertahankan kepercayaan agar tetap tinggi juga butuh effort yang luar biasa,” ujarnya, Sabtu (27/6/2026).
Untuk mempertahankan angka ini, Polri tidak cukup hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan. Tantangan baru — kejahatan digital yang semakin canggih, premanisme yang terus berevolusi, narkoba dengan jenis-jenis baru yang terus bermunculan — membutuhkan inovasi dan adaptasi yang konstan. Berhenti berinovasi berarti mulai tertinggal, dan tertinggal berarti kepercayaan yang sudah dibangun dengan susah payah akan kembali tergerus.
“Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM, inovasi, serta transformasi pelayanan yang berkelanjutan,” tegas Irjen Pol Johnny Eddizon Isir.
